02 Maret 2021

AUFAL KAUSAR REFLEKSI KULIAH 2 PROF MARSIGIT

 

TUGAS REFLEKSI KULIAH 2

FILOSOFI, TEORI DAN KONSEP MATEMATIKA SEKOLAH DASAR

 

Nama

:

Aufal Kausar

NIM

:

20706261002

Dosen Pengampu

:

Prof. Marsigit, M.A.

Program Studi

:

S3-Pendidikan Dasar

 

Awal perkuliahan kedua ini, dosen mempersilahkan kepada mahasiswa untuk berdoa menurut agama dan kepercayaan masing-masing. Kemudian dosen memberikan motivasi akan pentingnya semangat menuntut ilmu. Selain itu, motivasi juga disertai dengan peristiwa keseharian yang disajikan lebih ringan dan membangkitkan semangat untuk mengikuti perkuliahan tentang awal mula ilmu matematika dan pendidikan matematika.

Matematika zaman Yunani kuno masih dianggap sebagai sebuah mitos. Artinya, kebenarannya tidak dibangun dan dilandaskan oleh kajian atau pengetahuan ilmiah. Mitos disini tidak dapat dimaknai sebagai hal yang negatif. Mitos dapat diartikan sebagai sesuatu yang baik atau sesuatu yang buruk. Sehingga sebagai awal, matematika dikategorikan dalam Myticism. Kemudian berkembang hingga di masa Plato. Dimana matematika dipandang sebagai pikiran. Atau matematika sebagai sesuatu yang hal yang rasional dan logis, termasuk pandangan akan matematika sebagai hal yang abstrak. Secara umum, matematika oleh Plato dan pengikutnya termasuk dalam filsafat analitik apriori.

Di sisi lain, Aristoteles memiliki pandangan yang berbeda dengan Plato. Jika Plato berpandangan matematika sebagai hal yang abstrak, Aristotetlian berpandangan bahwa matematika sebagai sesuatu yang kongkrit. Matematika menurut Aristoteles harus dibangun atas pengalaman atau kenyataan. Sehingga terdapat gap yang signifikan pandangan antara Plato dan Aristoteles. Hal ini menjadi salah satu penyebab munculnya perbedaan dua pandangan besar dalam dunia ilmu pengetahuan.

Seiring berjalannya waktu, matematika matematika mengalami perkembangan hingga Kant memiliki kritik terhadap kedua pandangan di atas. Kant berupaya menggabungkan pandangan analitik apriori dan sintetik aposteriori dari pendapat Plato dan Aristoteles. Analitik apriori merupakan memahami walau belum mengalami atau atas kajian ilmiah, sedangkan sintetik aposteriori merupakan sebaliknya. Sehingga perlu ada kajian kritis mengenai dua pandangan ini.

Topik selanjutnya yakni perkembangan matematika yang awalnya merupakan bagian dari proses pendidikan hingga akhirnya muncul ilmu matematika murni. Matematika dan pendidikan matematika saat ini memiliki perbedaan capaian pembelajarannya. Matematika murni juga masuk dalam ilmu sains murni, sedangkan pendidikan matematika masuk ke dalam ilmu terapan.

Pendidikan matematika dalam pendidikan juga memiliki tahapan tersendiri. Matematika yang dipelajari di perguruan tinggi berbeda dengan matematika yang dipelajari di jenjang SD baik secara substansial maupun yang sifatnya praktikal. Matematika di tingkat perguruan tinggi sifatnya masih definisi, sedangkan di jenjang SD matematika yang dipelajari merupakan matematika intuisi. Intuisi sendiri dapat bermakna memahami intuisi dan bermakna memiliki intuisi. Atau memahami sesuatu atau objek belum tentu memiliki objek tersebut.

Matematika di jenjang SD harus lebih diarahkan ke konsep yang lebih kongkrit, termasuk pada tugas akhir yang dilakukan oleh jurusan PGSD bidang matematika. Menurut pantauan dosen, tugas akhir yang ada di jurusan PGSD banyak yang tidak berlandaskan pada teori matematika yang kongkrit. Sehingga terkadang hal ini dianggap kurang relevan karena pada konteksnya matematika di Sekolah dasar banyak yang diupayakan agar lebih kongkrit dan mudah dipahami oleh siswa.

Matematika Sekolah Dasar pada dasarnya lebih diarahkan untuk mencari pola, mencari hubungan dan kemampuan komunikasi. Selain itu, matematika sekolah dasar juga mulai diperkenalkan dengan matematika realistik. Karenanya, pembelajaran di jenjang sekolah dasar perlu diarahkan ke konsep constructive teaching and learning.

Perkuliahan filosofi, teori dan konsep matematika SD yang kedua ditutup dengan doa dan motivasi dari dosen untuk tetap semangat walau situasi pandemi belum berakhir.

16 Februari 2021

AUFALKAUSAR REFLEKSI KULIAH 1 FILOSOFI MATEMATIKA SD

 

Sebagai pengantar, Dosen memberikan motivasi dengan kalimat “Guru yang baik merupakan guru yang mampu melayani dan menjadi fasilitator bagi siswa untuk terus tumbuh dan berkembang”. Hal ini sejalan dengan arah perkuliahan Filosofi, Teori dan Konsep Matematika SD. Bahwa seyogyanya perlu dipahami bahwa aspek pendidikan yang paling penting adalah bagaimana siswa tidak hanya sekedar mengetahui/memahami teori atau konsep yang diberikan oleh guru. Akan tetapi lebih dari itu, siswa dapat memahami makna filosofis dari setiap proses pendidikan yang dialaminya.

Selanjutnya dijelaskan pula bahwa konsep pendidikan saat ini mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Setelah sebelumnya konsep pendidikan teacher centered learning lebih populer. Saat ini telah mengalami perubahan kea rah student centered learning. Hal ini didorong oleh kesadaran dari manusia bahwa pemikiran manusia dibangun berdasarkan pengalaman yang bernama intuisi. Intuisi manusia sendiri memiliki ciri-ciri yakni tidak diketahui secara pasti kapan datangnya dan dari mana datangnya. Oleh karenanya, untuk melatih kemampuan berpikir manusia melalui intuisi, proses pendidikan merupakan salah satu jalannya.

Berkenaan dengan intuisi, salah satu langkah yang dapat dilakukan untuk membangun pemikiran kritis manusia yakni melalui proses pembelajaran matematika. Akan tetapi, terdapat perbedaan antara matematika yang dipelajari di perguruan tinggi dengan yang dipelajari di tingkah sekolah dasar. Matematika di sekolah dasar tidak memerlukan definisi yang mutlak bagi siswa. Akan tetapi siswa diarahkan untuk lebih dapat mempertajam konsep matematikanya sebagai bekal perkembangan intuisinya di usia sekolah.

Ada banyak sekali definisi yang coba dibangun oleh manusia mengenai matematika. Ada yang mendefinisikan matematika matematika sebagai dunia, matetematika sebagai multiwajah. Ada yang memaknai matematika sebagai the mean of communication. Ada pula yang mendeskripsikan matematika itu indah. Setiap manusia memiliki pandangannya masing-masing akan definisi matematika. Dan definisi yang dibangun tersebut tidak boleh serta merta dijadikan sebagai acuan mutlak. Karena akan berbeda cara pandang definisi matematika oleh matematikawan murni dengan guru matematika di sekolah dasar.

Budaya yang berkembang di lingkungan pendidikan kita saat ini terlihat bahwa saat masih di kelas rendah sekolah dasar, siswa cenderung proaktif bahkan sangat bersemangat ketika belajar matematika. Namun, semakin tinggi kelas yang dialami siswa tersebut, ternyata tidak serta merta membuatnya semakin aktif dalam mengikuti pembelajaran matematika. Justru sebaliknya semakin tinggi kelasnya siswa cenderung diam. Hal ini menjadi fenomena mengingat tingkat kesulitan matematika juga semakin besar seiring tingkatan kelas yang ditempuh. Yang menjadi sorotan adalah bagaimana guru dapat memberikan pemahaman akan pentingnya belajar matematika dan makna yang terkandung di dalamnya.

Selanjutnya dosen memberikan motivasi dengan memberikan contoh pemikiran kritis dan dinamis yang disampaikan oleh seorang remaja yang membacakan puisi dalam pelantikan presiden AS yang baru saja terpilih. Bahwa pemikiran kritis dan intuitif itu tidak hanya berlaku bagi manusia dewasa saja, akan tetapi remaja bahkan anak-anak juga memiliki peluang yang sama.

Analisis Isi Buku Immanuel Kant The Critique of Pure Reason Oleh : Aufal Kausar (20706261002)

 Kant menggunakan satu kalimat filsafat sebagai pengantar dalam bukunya. Bahwa pikiran manusia tidak akan pernah tuntas karena ada wilayah atau batasan pemikiran yang tidak mampu dijangkau oleh pikiran manusia itu sendiri.

Pikiran manusia diawali dengan suatu kaidah bahwa kebenaran tidak akan pernah cukup jika hanya dibuktikan dengan sebatas pemikiran semata, akan tetapi memerlukan pengetahuan berdasarkan pengalaman nyata. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, pemikiran manusia mengalami perkembangan yang semakin pesat dan maju. Hal ini disebabkan oleh sifat dari pengetahuan manusia yang berisi pertanyaan-pertanyaan akan sesuatu hal yang tak pernah ada akhirnya. Akibatnya, manusia dengan perkembangan pemikirannya tersebut semakin menyadari bahwa ada banyak kaidah-kaidah baru yang tidak mampu dijangkau oleh pikirannya sendiri disebabkan oleh fenomena timbulnya pertanyaan-pertanyaan baru yang tak ada hentinya tadi.

Walau di sisi lain hal ini bertentangan dengan kaidah alam pemikiran manusia di awal tadi, dimana sesuatu yang tidak dapat dibuktikan melalui pengalaman nyata tidak dapat disebut sebagai pengetahuan, sekaligus menjadi semacam kesalahan tersembunyi dalam dunia pemikiran manusia. Akan tetapi, tidak hal ini tidak dapat menolak kenyataan bahwa pemikiran manusia memiliki keterbatasan tertentu, dimana terdapat banyak hal yang tidak dapat dijangkaunya. Pertentangan pemikiran yang tiada akhir ini disebut sebagai metafisik.

Waktu, sebagai ratu dari segala ilmu pengetahuan, merupakan aspek paling penting dari segala masalah. Walaupun metafisik dianggap sebagai dogmatise kuno. Akan tetapi, saat ini, semua metode untuk menemukan puncak dari pengetahuan itu sendiri selalu sia-sia. Hal ini menjadikan dunia pengetahuan menjadi membingungkan, tidak jelas, dan tidak memiliki nilai manfaat. Di saat yang sama, waktu menjadi hal yang paling misterius


Pic 1.  Universe mind

Kant tidak bermaksud membuat buku yang berisi kritikan atau sistem tertentu, akan tetapi pertanyaan mendasar akan pikiran, dengan pertimbangan usaha untuk mencapai pengetahuan tanpa didasari oleh pengalaman, di sisi lain, solusi atas pertanyaan berdasarkan kemungkinan dan kemustahilan akan metafisik, dan ketetapan alam, dipahami sebagai batasan ilmu pengetahuan. Ini menjadi prinsip dasar atas semuanya.

Saat ini, semua hal yang rasional, harus memuat elemen pengetahuan a priori, dan pengetahuan a priori berdiri di atas dua hubungan objek. Juga memiliki konsep atas suatu objek sebagai pendukung atau menjelaskan realitas. Yang pertama adalah teori, lalu praktik, lalu penjabaran rasional. Kedua elemen pengetahuan a priori ini harus diutamakan dan dikenal secara hati-hati jika didukung oleh sumber pengetahuan lain.

Ilmu matematik dan fisika merupakan dua pengetahuan teoritis yang menetapkan objeknya sebagai pengetahuan a priori. A priori adalah yang pertama, lalu bagian-bagiannya, juga tergantung dari sumber pengetahuan yang lainnya. Di zaman dahulu, matematika merupakan sumber utama ilmu pengetahuan di Yunani. Di sisi lain, Kant berpendapat bahwa orang-orang Mesir kuno memiliki jalan lain dalam menyelami pengetahuan. Diogenes Laertius juga memiliki arah pemikiran baru yang menjadi bagian paling penting dalam sejarah di antara para matematikawan. Ia menemukan bahwa konstruksi dari pengetahuan a priori tidak harus diikuti oleh kaidah bahwa konsep pengetahuan tidak harus dimulai dari keyakinan tanpa melalui pembuktian. Ia berpandangan bahwa konsep pengetahuan itu akan diikuti oleh pembukitan objek pengetahuan itu dengan sendirinya.

Bacon juga memiliki arah lain mengenai pengetahuan fisika. Bahwa menemukan pembuktian terlebih dahulu merupakan sebuah bentuk dari evolusi ilmu pengetahuan. Kant juga menegaskan keyakinannya akan bagian empirik dari pengetahuan alam. Kant membandingkan perspektif pengetahuan menurut Galilei dengan Torricelli mengenai volume air. Termasuk pembuktian yang dilakukan oleh Stahl. Kant meyakini bahwa para ilmuwan di atas mempelajari alam pikiran manusia dengan perspektif mereka masing-masing, tidak harus terikat oleh kaidah-kaidah khusus bahwa harus diawali oleh pembuktian lebih dulu kemudian teori, ataupun sebaliknya. Namun tetap saja dalam menjawab pertanyaan mengenai suatu fenomena, Kant tetap meyakini bahwa kesemuanya melalui kaidah pengetahuan berdasarkan hukum yang tidak tetap dan membandingkan fenomenanya untuk menjawab pertanyaan teoritis tadi.

Metafisik menjadi Sesuatu yang murni merupakan pengetahuan spekulatif, yang berdiri sendiri serta bersifat independent terhadap pengalaman atau fenomena. Yang sejalan dengan konsep pikiran manusia. Tidak seperti matematika yang mengaplikasikan konsep berdasarkan intuisi. Akan tetapi metafisik yang seperti ini tidak akan cukup digunakan sebagai metode saintifik. Kant menemukan bahwa pikiran manusia yang berdiri sendiri dapat mencapai pengetahuan a priori. Juga ditemukan bahwa mereka yang ingin mencapai pengetahuan metafisik jauh di lubuk hatinya akan menolak atau tidak setuju, akan tetapi sains muncul untuk melengkapi pikiran manusia dalam menyelami metafisik tersebut.

Penemuan Copernicus dalam eksperimen nya juga menjadi bahan perenungan Kant. Bahwa jika intuisi menyesuaikan dengan sifat objek eksperimen bagaimana kita bisa mengetahui hal tersebut sebagai pengetahuan a priori. Jika di sisi lain, objek menyesuaikan sifat dari kemampuan intuisi kita. Akan tetapi, jika objek tersebut menjadi pengetahuan, harus merujuk sebagai representasi, atas sesuatu, sebagai objek dan harus memastikan makna dari objek pengetahuan yang lebih dulu ada.

Disini, Kant ingin memastikan yang manakah konsep a priori. Ia menganalogikan, jika ia mengasumsikan bahwa sebuah objek yang telah diketahui, maka harus menyesuaikan dengan konsep dalam pikirannya. Sebelum objek diberikan kepada dirinya (Kant), sebagai pengetahuan yang tidak ia buktikan sebelumnya, Kant harus mengasumsikan bahwa objek tersebut termasuk konsep pengetahuan a priori. Namun, jika ada objek yang ada dalam pikiran, belum pernah dibuktikan atau diketahui sebelumnya, untuk mencoba memikirkan apa informs pelengkap dari objek ini selanjutnya adalah dengan metode baru yang diadaptasi dari kaidah yang kita ketahui sebagai pengetahuan a priori yang kita simpan sebelumnya.

Kant menyatakan bahwa seandainya bagian pertama dari metafisik merupakan konsep a priori, atau mengetahui objek yang mungkin berdasarkan pengalaman yang merupakan alat bukti pengetahuan. Ia dapat membuktikan metode baru dalam memahami metafisik. Untuk dapat menjangkau batas pengetahuan adalah tidak mungkin. Jika kita mengetahui pengetahuan akan objek dan kapan kemunculan pengetahuan ini, hal ini tidak terpikirkan tanpa kontradiksi. Namun jika mengasumsikan bahwa representasi dari objek yang diberikan kepada kita tidak sesuai dengan pengetahuan kita akan tetapi sebagai peristiwa atau pengalaman, sesuai dengan representasi kita di awal, maka kontradiksi akan hilang dengan sendirinya. Dan kita yakin akan kebenaran ini dari apa yang kita asumsikan berdasarkan eksperimen. Kita tahu bahwa mengetahui sesuatu hal secara meyakinkan tanpa syarat merupakan kebenaran sejauh yang kita ketahui, walaupun kita juga tahu bahwa hal tersebut jauh di atas pengetahuan kita.

24 Januari 2021

Filsafat Aufal Kausar

LAPORAN KAJIAN FILSAFAT

Berdasarkan Tulisan, Video dan Sumber lain Karya Prof. Marsigit, MA

 


 Kajian Filsafat (Int)

Manusia disebut khalifah di muka bumi. Walau secara pribadi kami belum mampu memaknai secara kaffah kalimat ini karena butuh kajian yang mendalam untuk memaknai esensi manusia sebagai khalifah di muka bumi ini. Dalam tulisan Bapak mengenai KEUNGGULAN DITERMIN, disebutkan salah satu sebab manusia diturunkan ke bumi yaitu untuk menamai benda-benda. Bentuk keunggulan ditermin disini yaitu kemampuan manusia dalam menamai benda-benda tersebut. Artinya, keunggulan ditermin memiliki makna yang luas dalam memayungi sebagian dari kata kerja yang mendeskripsikan kemampuan manusia. Dari keseluruhan kata kerja tersebut ada yang sifatnya disadari dan tidak disadari. Berbeda dengan makhluk ciptaan Allah SWT yang lain, keunggulan diterminnya merujuk pada keadaan selain yang dilakukan atau dialami oleh manusia. Tumbuhan dan hewan memiliki keunggulan ditermin bersifat instingtif, hampir sama dengan manusia namun terbatas. Benda-benda yang ada di dunia memiliki keunggulan ditermin sesuai dengan kodrat Allah SWT yaitu mengikuti hukum alam.

Dari keunggulan ditermin manusia yang memiliki berbagai kemampuan ini, dapat dipahami pula bahwa tindakan manusia dalam melakukan sesuatu itu bersandar pada ATURAN, sesuai dengan tulisan Bapak dengan judul yang sama. Manusia melakukan sesuatu (makan, minum, beribadah, belajar, bekerja, dan lain-lain), bersandar pada aturan identitas absolut, benarkah atau salahkah di menurut Aturan Allah SWT. Kemudian aktifitas manusia tersebut ditinjau dari aturan identitas relatif. Apakah sesuai dengan hati dan pikiran manusia? Atau sesuai dengan pedoman hidup manusia? Lalu diadaptasikan dengan aturan kontradiksi. Apakah tindakan manusia tersebut sesuai dengan kenyataan yang ada. Juga apakah manusia mampu mencerna hubungan antara aturan identitas dan aturan kontradiksi yang melekat pada manusia itu sendiri

Seorang manusia yang menuntut ilmu, akan mencoba menelaah, ilmu yang akan dipelajari apakah sesuai jika ditinjau dari aturan identitas absolut atau Aturan Allah SWT. Jika ilmu yang dipelajari tidak sesuai aturan identitas absolut, maka akan melanggar aturan identitas relatif manusia itu sendiri karena tidak sesuai dengan pedoman hidup manusia yang sebenarnya. Berakibat pada ketidaksesuaian atau bertentangan pada aturan kontradiksi yang memuat kenyataan. Kenyataan yang dihadapi adalah ilmu yang dipelajari akan tidak sesuai dengan apa yang menjadi kodrat manusia sebagai manusia yang diciptakan dalam ketidaksempurnaannya. Sifat dari aturan kontradiktif yang berbentuk kenyataan itu terikat oleh ruang dan waktu. Manusia sebagai makhluk yang ada di dalamnya, berada pada kondisi sempurna dalam ketidaksempurnaan, serta tidak sempurna dalam kesempurnaan.

Berbeda dengan manusia yang menuntut ilmu sesuai dengan aturan Allah SWT, apa yang dilakukannya memiliki konsekuensi logis bahwa manusia tersebut tidak melanggar aturan identitas yang sifatnya relatif atau yang merujuk pada hati dan pikiran manusia. Karenanya, ilmu yang dipelajari juga akan sesuai dengan aturan kontradiksi yang menjadi kenyataan yang terikat oleh ruang dan waktu. Kesesuaian ini akan saling berkaitan satu sama lain. Artinya, tindakan manusia yang sesuai dengan aturan identitas absolut akan merujuk pada kebenaran.

Kebenaran sendiri memiliki hakekat sesuai dengan tulisan Bapak tentang HAKEKAT KEBENARAN. Dimana disana disebutkan bahwa bahwa kebenaran memiliki tinjauan ontologi, epistemologi dan aksiologi. Aspek ontologi dari kebenaran yang itu berkenaan dengan hakekat dan kedudukan kebenaran. Aspek Epistemologi dari kebenaran memuat asal, proses dan macam kebenaran. Serta aspek aksiologi  dari kebenaran yang berkenaan dengan etika dan estetika kebenaran.

Hakekat kebenaran juga memiliki sejumlah pemaknaan yang luas bergantung pada semesta pembicaraannya. Kebenaran fiksi yang merupakan bagian dari kebenaran analitik tetapi berdasar asumsi atau kebenaran bebas dan juga menghasilkan kebenaran bebas. Kebenaran fiksi berdasar atas asumsi benar sesuai kesepakatan. Kebenaran asumsi merupakan landasan atas kebenaran formal. Ada pula kebenaran komformitas dimana kebenaran ini merujuk pada penyesuaian seseorang atau sekelompok orang terhadap pikiran, perkataan dan tindakan yang sesuai perbuatannya masing-masing terhadap dalil-dalil yang diyakininya.

Seringkali kita mendengar kebenaran yang sifatnya subjektif dan kebenaran yang sifatnya objektif. Keduanya termasuk kebenaran asumsi yang dihubungkan oleh suatu eksperimen. Jika ditinjau dari perspektif lain, kebenaran subjektif dapat disebut sebagai kebenaran dalam. Sedangkan kebenaran objektif merupakan kebenaran luar. Kebenaran dalam merupakan kebenaran berdasarkan asumsi yang berdasar atas pemikiran subjektif manusia. Sedangkan kebenaran luar berdasar pada persepsi objek luar pikiran manusia. Maka dalam kehidupan sehari-hari, kebenaran manusia diterima oleh pikiran melalui suatu pengalaman yang ia anggap benar dan menjadi suatu kebenaran objektif karena berasal dari luar. Setelah mengetahui dan memahami kebenaran objektif, manusia juga memiliki kebenaran subjektif dalam menjelaskan apa yang diketahuinya. Walau di sisi lain, perlu ada kajian mendalam mengenai pola kebenaran objektif maupun kebenaran subjektif ini, kebenaran mana yang lebih dulu diprioritaskan. Karena seyogyanya kebenaran itu memiliki landasan.

Berbicara mengenai landasan, pada tulisan Bapak yang berjudul LANDASAN, saya mengutip secara verbatim kalimat Bapak bahwa hidup manusia itu ada yang memiliki landasan, ada pula yang tidak. Manusia yang memiliki landasan, akan berkeyakinan bahwa segala sesuatu itu ada landasannya. Landasan agama berupa iman, landasan pikiran berupa hati, landasan moral berupa agama, budaya da nada istiadat, dan bentuk-bentuk landasan lainnya. Karenanya, manusia yang berlandaskan sesuatu pasti memiliki makna dibalik landasannya. Makna dibalik perbuatan manusia yang memiliki landasan memiliki makna dan manfaat di baliknya merupakan konseksuensi atas hidup manusia sebagai makhluk yang memilih atau terpilih.

Manusia yang diberi kesempatan memilih hidupnya diistilahkan secara matematis sebagai pola jumlah atau tambah berketentuan. Dan saat memilih menambah perubahan, maka mustahil bagi manusia jika tidak disertai dengan konsep menambah ketentuan. Seperti dalam tulisan berjudul FILSAFAT PENJUMLAHAN, bahwa manusia dapat berpikir melalui pikiran sebelumnya secara psikologis.

Konsep menambah atau mengurangi merupakan keadaan perubahan yang terikat oleh ruang dan waktu. Tidak adanya perubahan oleh ruang dan waktu maka tidak ada pula kegiatan menambah atau mengurangi. Perubahan ruang dan waktu ini sifatnya absolut bagi Tuhan dan relatif bagi segala ciptaan Tuhan. Sebuah benda mati yang tidak bergerak sekalipun berada dalam kondisi menembus ruang dan waktu.

Kembali ke konsep manusia sebagai makhluk yang memilih dan dipilih, sesuai dengan video Bapak tentang FilsafatBagian 1 di YOUTUBE bahwa hidup manusia itu metafisik. Dimana di dalamnya terdiri atas Fatal dan Vital. Fatal merupakan takdir manusia yang sifatnya tetap. Aliran yang ada dalam konsep Fatal ini yaitu Absolutism, Spiritualism, Logicism, hingga Rasionalism. Konsep pengetahuan manusia menurut Rasionalism ini disebut A Priori. Dimana manusia memiliki keyakinan akan pengetahuan yang dimiliki sebelum mendapatkan pengalaman atau peristiwanya sendiri. Pada taraf tertentu, konsep ini bukan dalam artian sebagai bentuk fanatisme. Akan tetapi lebih ke bagaimana keyakinan tersebut memang ada dan menjadi landasan pengetahuannya walau belum mengalami peristiwanya langsung sebagai bukti.

Konsep manusia sebagai makhluk yang memilih disebut sebagai Vital. Sifanya berubah-ubah. Aliran yang ada dalam konsep ini yaitu Realism serta Materialism. Konsep pengetahuan manusia menurut aliran realism ini disebut A Posteriori. Dimana manusia memiliki keyakinan akan pengetahuan berdasar atas pengalaman yang diperolehnya atau mengalami peristiwanya secara langsung. Pengalaman atau perjalanan hidup manusia disebut sebagai konsep empiricism. Aliran ini pula yang menjadi salah satu dasar aliran post-positivism yang berlangsung di dunia saat ini.

AUFAL KAUSAR REFLEKSI KULIAH 4 FILSAFAT PROF MARSIGIT

TUGAS REFLEKSI KULIAH 4 FILOSOFI, TEORI DAN KONSEP MATEMATIKA SEKOLAH DASAR   Nama : Aufal Kausar ...